Menghidupkan Cinta

Kenapa harus melulu merumitkan hal yang sederhana, sedang cinta kerap datang dengan liarnya? Manfaatkan saja cinta sebagai penjinak hati sempurna. Membuang jauh penat yang sesak. Menghapus sisa sisa kesal tak guna. Taburlah cinta dalam setiap langkah, semoga semesta pun mengiringi cinta.

Meh. Sajak-sajak cinta ala Rangga gini sering banget muncul di kepala. Kadang jijay juga sih, haha.

Ceritanya, akhir-akhir ini saya merasa penuh cinta. Apa yaa, semacam sebuah rasa yang melegakan, dan bisa bikin senyum-senyum sendiri gitu lho.

Kisahnya tentang ibu, juga ayah. Ibu sih pemeran utamanya. Memasuki usia yang tidak lagi muda, kedua malaikat ini tampak lebih istimewa. Alhamdulillah, semua sehat. Apalagi, sekarang saya bisa menghabiskan waktu lebih banyak bersama mereka.

Keluarga ini teramat menyenangkan, juga teramat aneh di waktu yang bersamaan. Suka jalan-jalan, suka bercanda, suka pada nyanyi gak jelas, saut-sautan, suka pada ketawa sendiri (tiba-tiba), suka nge-lucu padahal gak lucu, tapi tetep aja ketawa -_- Kadang kalo lagi kumpul, kami suka berkhayal hal yang tidak mungkin, yauda ketawa lagi, atau  suka pada iseng mengenang masa lalu, yoi masa yang sulit.

Sedikit putar kembali waktu, ke-istimewa-an ini tidak begitu saja kami dapat. Kiranya pahit, jatuh bangun, air mata lengkap sudah mengisi lembar kehidupan sebelumnya. Semua baik-baik saja ketika akhirnya saya kuliah di Surabaya. Kira-kira 5 tahun yang lalu.

Bukan berarti sebelum itu isinya ribut doang sih, saya aja yang tidak cukup perduli. Saya tidak cukup dekat dengan ibu, saya jarang dirumah, mencari-cari kesibukan ekstrakulikuler sebagai alasan lari dari jengahnya suasana rumah. Rumah tidak bisa saya sebut tempat paling nyaman untuk pulang, dulu.

Atas semua rasa pahit, kami berusaha menguburnya dalam. Sesekali masih suka dibahas sih, tapi secepat kilat topik pembicaraan ini diganti. Ibu amat tidak berkenan membahasnya. Tapi ya, jika bukan karena ibu, entahlah, bisa saja luka itu masih payah berserakan diantara kami.

Sebenarnya luka itu selalu siap untuk kapan saja melukai, tapi kekuatan itu lagi-lagi datang menyembuhkan. Sampai saat ini saya belum menemukan jawaban terbuat dari apa sebenarnya hati ibu, bisa sekuat itu. Sayangnya, saya tidak tau detail, ibu lebih banyak diam.

Sejak 5 tahun lalu, semua berubah menjadi amat menyenangkan. Rumah adalah tempat pulang terbaik, penyembuh jenuh mutakhir. Jadilah rindu selalu datang yang sebelumnya tidak pernah saya miliki ~

Kalo dulu masing-masing, sekarang pengennya kumpul melulu. Apalagi ayah dan ibu. Ada aja tingkah laku yang aneh tapi justru bikin kami nyaman. Kaya sebelum mandi pada janjian mau pake baju warna apa, rumah udah kaya posko partai. hahahaha.  Apalagi kalo mulai pada nge-gombal.

A : Mah, Kok malam ini wajahnya bersinar ?

I  : Masa sih?

A : Iya, kaya bintang kejora ~

I  : *Kedip-kedipin mata sambil senyum-senyum kesenengan

Khanaya : Iya-iya mama bintang kejora, aku bintang kecil, nah papa malam yang gelap.

Aelaaaah, padahal ya secara sadar semua juga tau kalo gombalan itu karena ayah pengen dibuatin jus apel doang, yaiyalah bersinar orang bohlam lampu rumah baru diganti semua. hahahahaha.

Tidak ada yang bisa menggantikan rasa bahagia yang menyerbu hati saya tiap kali ayah dan ibu bercanda. Pun sebaliknya, hati bagai dirajam kalau hal sepele saja diributkan.

Sekali lagi, ibu pemeran utama yang berhasil. Gimana ya, saya tidak bisa menceritakan dengan detail sih, ini rahasia. hehe. Kisahnya pun baru-baru ini saya pahami, setelah sekian lama hidup dalam keluarga rasa hampa. Ibu saya sibuk. Bahkan tidak banyak ingatan saya menghabiskan waktu dengannya (kecuali selama hidup di Kalimantan).

Yaa, ibu sibuk membangun pertahanan dalam keberanian, kekuatan, keikhlasan, dan segala rupa perasaan terhebat yang tidak pernah mudah. Pontang-panting menghadapi masalahnya seorang diri. Ingatan saya hanya sebatas perkara rumit yang diteriakkan oleh ibu dan ayah, saya yang tidak cukup mengerti di usia itu, hanya menangis.

Suatu hari, ibu mengajak saya berkisah, tentang semua. Sedikit banyak saya mendapat jawaban atas segala pertanyaan yang tertinggal di masa lalu. Kemudian pemahaman ini membawa saya pada penyesalan terdalam atas segala prasangka tidak baik terhadap ibu 🙁

Bertahanlah untuk anak-anakmu, sedalam apapun sakit hatimu, berdamailah. Siapa yang akan merawatnya jika sakit, siapa yang akan menjaganya jika tua ~

(kira-kira begini lah hati ibu bicara untuk dirinya sendiri)

Kisah ini menghapus ke-heran-an saya ketika beberapa kali ayah dan ibu meributkan hal sepele. Jadilah perdebatan kusir tak berujung. Ayah memang tempramen kadang-kadang, bicaranya menyakitkan (menurut saya). Tapi ibu, seperti kebal, tetap melayani ayah dengan “Sayang, mau kopi?,” Padahal, saya yang denger udah gemes, kesel dan sedih banget. Pengen belain, tapi pasti nanti saya diomelin ibu. Yaudah~

Aneh memang, secangkir kopi itu bisa meluruhkan suasana. Kemudian, semua kembali semula. Sesekali saya membayangkan apa yang sedang ibu pikirkan, tapi ah, merepotkan, ibu baik-baik saja, tampaknya.

Itulah mengapa saya beri judul tulisan ini Menghidupkan Cinta, karena kekuatan ibu itu adalah cinta. Ia bertahan untuk anak-anaknya agar tetap merasa nyaman dan aman dengan cinta.

Saya rasa, perasaan ini tidak hanya terjadi pada keluarga saya, yang berbeda adalah cara pandangnya saja. Alhamdulilah, semakin hari kehidupan kami sesak dengan cinta.

 

1 Comment

  1. Someone

    July 11, 2017 at 11:29 am

    Nanggung bangeet ga diceritain semua (tapi jangan sih kan masalah), tapi pengen tau.. gimana dong.

Leave a Reply