Menikah Bukan Lomba oi !

Ada hal yang amat menyebalkan, hari ini  ~

Kenapa urusan pribadi orang harus menjadi atmosfer di kantor ini. Bahkan saya harus menjawab pertanyaan yang kesannya mendesak. Kapan kawin? Buruan nanti kemakan usia! Pacarnya orang mana nih? Pernah diapelin gak? Kalo cari pacar jangan dari kota X, orangnya pelit-pelit atau jangan dari kota Y, orangnya tukang selingkuh. What the !!!!!

Saya kurang paham atas konsep basa-basi ini. Pertama, saya emang agak males jawab pertanyaan gituan. Ini lebih kejam daripada dateng ke nikahan temen trus ditanya kapan nyusul, atau temen-temen yang mengeluh aku kapan nikah yaaaa, nikah sama siapa yaaa. zzzt. Kedua, saya tidak pernah mau perduli atau cari tau urusan orang lain, kecuali orang itu cerita sendiri, apalagi sama orang yang baru kenal, dengan begitu saya pun tidak suka dikasih pertanyaan semacam itu.

Saya sudah diskusikan ini dengan beberapa temen saya, sebagian dari mereka punya nasib yang sama. Wajar lah lik, kita kan single makanya suka pada iseng. Biarin aja lik, nanti kan pada capek sendiri atau pendapat ibu yang bilang santai aja kali el nanggepinnya, mereka kan cuma bercandaBig NO ! Ini sudah masuk minggu ke tujuh saya kerja, almost everyday I try to deal with. Dulu udah pernah ditanyain dan dijawab, masa kurang aja jawabannya. Sedih aja gitu ketika akhirnya ini menjadi kebiasan seseorang dalam ber basa-basi.

Bukannya saya gak mau nikah, cuy !

Kadang saya juga mikir siapa yang akan menjadi teman hidup atau dengan siapa akhirnya bisa merencanakan visi misi kehidupan dunia akherat, merencanakan janji kehidupan yang terbaik dengan saling melengkapi dan menguatkan. hahaha.

Bahkan saya sering ngobrol dengan temen saya yang baru married, mereka cerita banyak tentang kebahagiaan pun kesulitan dalam mahligai pernikahan. Yaaa, saya belajar dari mereka, semoga ini termasuk ikhtiar saya untuk mementaskan diri menjadi pribadi yang pantas bersanding dengan seseorang yang pantas juga.

Urusan menikah, ini kan perihal rejeki. Lantas, apa harus kita khawatir berlebihan? Menikah itu menyempurnakan separuh agama lho. jangan main-main. Urusan ini tidak sesederhana kamu dan aku. Banyak hal menjadi pertimbangan, termasuk sikap kita kepada orang lain, karena yang dihadapi adalah keluarga besar dengan karakter berjuta. Saya sedikit tidak setuju dengan pendapat yang bilang semua itu bisa diatur sambil jalan. Kita juga butuh bekal, termasuk hal sepele sekalipun yaitu sehat jasmani dan rohani karena urusan jangka panjang adalah mejadi pendidik ter-sempurna yang kita bisa untuk titipan berharga kelak, yaitu buah hati.

Satu hal. Kenapa harus ada pertanyaan kamu kapan? Menikah bukan perlombaan cuuuy. Siapa yang duluan bukannya dapat hadiah, justru amanah. Mereka yang sudah menikah artinya sudah siap dan selesai dalam pertimbangan yang ada. Kita kapan? sabar, semua ada masanya~ Artinya, kita diberi waktu tambahan untuk menggenapi pribadi yang dangkal ini.

Kalau memang mendesak, bertanyalah pada Pembuat Skenario Terbaik, sejauh ini saya cuma percaya, Allah SWT dalam firman-Nya,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍۢ وَٰحِدَةٍۢ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًۭا كَثِيرًۭا وَنِسَآءًۭ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ٱلَّذِى تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًۭا

“Wahai manusia, bertaqwalah kamu sekalian kepada Tuhanmu yang telah menjadikan kamu satu diri, lalu Ia jadikan daripadanya jodohnya, kemudian Dia kembangbiakkan menjadi laki-laki dan perempuan yang banyak sekali.” [QS. An Nisaa (4):1].

Leave a Reply